DOSA YANG TIDAK DAPAT DIAMPUNI
DISUSUN
OLEH:
ROBERT
BU’ULÖLÖ
NIM
: 20180123
![]() |
SEKOLAH TINGGI TEOLOGI
STUDI ALKITAB UNTUK PENGEMBANGAN PEDESAAN INDONESIA
CIANJUR, MEI 2020
DOSA YANG TIDAK DAPAT DIAMPU
PENDAHULUAN
Dosa adalah
suatu istilah yang terutama digunakan dalam konteks agama untuk menjelaskan
tindakan yang melanggar norma atau aturan yang telah ditetapkan Tuhan atau
Wahyu Ilahi.[1]
Dalam
hamartiologi Kristen, dosa abadi, dosa tak terampuni atau dosa yang tidak bisa
diampuni adalah dosa yang tak akan diampuni oleh Allah. Sebuah dosa abadi atau
tak terampuni (penistaan terhadap Roh Kudus) dijelaskan dalam beberapa Injil
Sinoptik, yang meliputi Markus 3:28-29, Matius 12:31-32, dan Lukas 12:10.[2]
Pokok yang
paling serius dalam seluruh isi Alkitab adalah mengenai dosa melawan Pribadi
Ketiga dari Tritunggal, yaitu Roh Kudus. Roh Kudus adalah satu Pribadi (Ia
adalah Allah). Dalam Yohanes 14,15 dan 16, misalnya, Ia membicarakan Roh Kudus
sebagai “Dia” kata ganti orang, sebab Ia bukanlah suatu kekuatan atau barang,
melainkan satu Pribadi.
Semua dosa dari
manusia terhadap Roh Kudus tidak ada yang lebih buruk daripada dosa menghujat
Roh Kudus. Alasannya jelas sekali: Dosa itu tidak dapat diampuni.
Yohanes 3:16
merupakan ayat yang menjelaskan bahwa:
“Karena begitu
besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang
tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan
beroleh hidup yang kekal.
Kalau sedemikian
kenyataannya, mengapa masih disebut adanya dosa yang tidak dapat diampuni? Dosa
semacam apakah itu yang begitu beratnya sampai tidak dapat diampuni? Bukankah
Yohanes 3:16 menjelaskan bahwa siapa percaya kepada Yesus tidak akan binasa,
melainkan beroleh hidup yang kekal. Lalu mengapa hanya menghujat Roh Kudus
dosanya tidak dapat diampuni? Bukankah kita sudah menerima kehidupan kekal
dalam Yesus Kristus? Guna menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis
menguraikannya di bawah ini.
DOSA
YANG TIDAK DAPAT DIAMPUNI
“Sebab
itu Aku berkata kepadamu: segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi
hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Tidak berhenti
disitu saja, ayat diatas langsung dilanjutkan dengan peringatan yang lebih
keras lagi: “Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia, ia
akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di
dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datang pun tidak.” Kedua ayat di dalam
Matius 12:31-32 ini diucapkan melalui mulut Tuhan Yesus sendiri.
Dosa-dosa umat
Allah selalu merupakan tindakan yang melawan kemurahan pekerjaan Roh Allah. Roh
kudus didukakan olehnya dan Dia menarik hadirat-Nya yang peka dan tampak dari
hati mereka. Alkitab berbicara hal mendukakan Roh Kudus dengan suatu peringatan.
Di dalam Efesus 4:30, Paulus menulis, “Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus
Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.”[3]
Artinya, perkataan-perkataan jahat yang tidak secara langsung ditujukan kepada
Allah, yang mana di dalam bahasa Indonesia lazim diterjemahkan dengan hujat
atau menghujat. Di dalam istilah tersebut terkandung unsur memfitnah.
Berkenaan dengan
menghujat, Perjanjian Lama mencatat peristiwa misalnya di dalam 1 Raja-Raja
21:10, 13. Nabot difitnah oleh kaki tangan ratu Isabel bahwa Nabot telah
mengutuk Allah dan mengutuk raja. Beberapa versi Alkitab menterjemahkan sebagai
“mengutuk” (NASB, NJB, NRSV) sementara versi lainnya menerjemahkan dengan
“menghujat” (KJV, NKJV). Tuduhan atau tepatnya fitnahan tersebutlah yang
menyebabkan Nabot harus dihukum mati. Jadi, di dalam Perjanjian Lama,
berdasarkan hukum Taurat, dosa menghujat akan menerima hukuman dirajam dengan
batu sampai mati.[4]
Beginilah penulis menerjemahkan kedua
ayat (Mat. 12:31-32):
“Karena
itu, Aku berkata kepadamu, semua dosa dan hujat akan diampuni bagi orang-orang, tetapi hujat terhadap
Roh Kudus tidak akan diampuni. Barangsiapa mengucapkan sesuatu menentang Anak
Manusia, akan diampuni bagi dia tetapi
jika ia menentang Roh Kudus tidak akan diampuni bagi dia, di dunia ini tidak dan di dunia yang akan datang pun
tidak.”
Terjemahan ini
terdapat sedikit perbedaan dengan Terjemahan Baru dari LAI namun
maknadasariahnya tetaplah sama. Bagian yang dicetak miring memperlihatkan letak
perbedaannya.
Dua
Injil lainnya juga mencatat kejadian
yang sama, yakni pada Markus 3:20-30 & Lukas 11:14-23; 6:43-45. Konteks
pada perikop ini menceritakan tentang peristiwa pengusiran setan, kepada
seorang yang kerasukan setan. Yesus menolongnya dan mengusir setan di dalam
dirinya sehingga kebutaan dan kebisuannya disembuhkan. Kesembuhan orang itu
menimbulkan dua macam reaksi. Hal ini terlihat dari komentar kedua macam
kelompok orang di sana. Pertama,
orang banyak takjub dan berpendapat: “Ia ini agaknya Anak Daud.” Kedua: orang Farisi berpendapat: “Dengan
Beezebul, penghulu setan, Ia menghusir setan.” Reaksi dari orang-orang Farisi
inilah yang ditanggapi dengan tegas & keras oleh Yesus. Bagi Yesus,
komentar dari orang-orang Farisi sudah termasuk ketegori menghujat. Dalam hal
ini, mereka bukannya sedang menghujat Yesus, melainkan menghujat Roh Kudus.
Orang-orang Farisi telah mengeluarkan kata-kata kutuk dan hujat terhadap Roh
Kudus, bukan lagi terhadap Diri Yesus.
Persoalannya
terletak pada komentar dari orang-orang Farisi. Mereka dengan kesadaran penuh
menolak Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Kudus Allah. Sebagai gantinya,
mereka menyebut Yesus memakai kuasa Beelzebul, penghulu setan. Dalam kejadian
tersebut, semua orang sudah mengetahui dengan jelas Yesus bekerja dengan kuasa
Roh Kudus. Apalagi orang-orang Farisi yang notebene adalah kalangan
terpelajar yang mengenal betul Kitab Suci dan kebenaran. Ayat 28 mengingatkan
orang-orang Farisi bahwa Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah.
Sesungguhnya hal ini sudah jelas bagi orang-orang Farisi. Penolakan mereka
terhadap diri Yesus tidak seharusnya dinyatakan dengan mengatributkan kuasa Roh
Allah sebagai kuasa penghulu setan. Jelas sekali di sini, orang-orang Farisi
telah melakukan suatu dosa fatal.
MENGHUJAT
ROH KUDUS
Dalam Perjanjian
Lama, kata kerja “menghujat” dapat berarti sebuah tindakan penistaan dan
tindakan keji. Berdasarkan 1 Samuel 3:13, anak-anak Eli dianggap menghujat
Allah dengan berbuat keji di hadapan pelayanan Tuhan. Nehemia 9:18, 26 dan
kitab Ezra juga membahas mengenai nenek moyang bangsa Israel yang menghujat
Allah dengan frasa “berbuat nista yang besar.” Lalu, Yehezkiel 20:27-32 juga
berbicara mengenai menghujat Allah karena memberikan persembahan kepada berhala
di atas tempat yang tinggi.[5]
Sedangkan, dalam
Perjanjian Baru, kata menghujat yang sering ditemukan adalah kata βλασφημέω “blasfhmia” mengandung arti
memfitnah, mengumpat, mengutuk, dan menghina (khususnya berkenaan dengan
perkataan).
Menghujat Allah
adalah dosa yang melawan kemuliaan dan meremehkan kekudusan Allah. Jadi, kata
βλασφημέω “blasfhmia” adalah sebuah
kehendak, kesengajaan, usaha secara sadar menampar wajah Allah.[6]
Jika Roh Kudus adalah pribadi Allah Tritunggal, maka menghujat Roh Kudus dapat
diartikan sebagai dosa yang melawan kemuliaan Allah dengan kehendak dan usaha
secara sadar.
Hukuman atas
dosa menghujat Allah merupakan hukuman yang berat, bahkan hukuman maut. Oleh
karena Roh Kudus adalah Pribadi dari Allah Tritunggal, maka menghujat Roh Kudus
adalah sama dengan menghujat Allah.
Menurut Wayne
Grudem, ada beberapa pandangan mengenai dosa menghujat Roh Kudus. Pertama,
ada pandangan bahwa dosa ini hanya berlaku pada saat Yesus hidup tetapi Grudem
mengatakan jika dosa ini hanya berlaku pada saat Yesus hidup maka akan sulit
diterima karena teks bagian ini tidak menetapkan suatu batasan waktu.[7]
Kedua, ada
pendapat yang mengatakan tindakan menghujat ini merupakan dosa yang dilakukan
orang tidak percaya yang berlangsung hingga akhir hidup mereka.
Ketiga, ada
pendapat bahwa dosa ini adalah dosa murtad yang sangat serius dan dilakukan
oleh orang yang sudah percaya kepada Yesus (Ibr. 6:4-6), di mana mereka
meninggalkan iman kepercayaan mereka.
Sehingga melalui
semua pendapat ini, Grudem mengatakan bahwa pendapat yang paling memungkinkan
mengenai menghujat Roh Kudus adalah dosa ini dilakukan oleh seseorang dengan
kehendak yang aktif menolak dan memfitnah pekerjaan Roh Kudus yang yang
membuktikan Kristus adalah Tuhan, bahkan menyamakan pekerjaan Roh Kudus sebagai
pekerjaan setan. Penolakan ini juga adalah penolakan yang dilakukan oleh
orang-orang Farisi setelah mereka melihat begitu banyak demonstrasi dari
pekerjaan Roh Kudus dalam pelayanan Yesus untuk memberikan hidup dan kesembuhan
bagi orang banyak.
Grudem
melanjutkan dengan pendapatnya bahwa orang-orang Farisi dalam konteks ini bukan
hanya tidak percaya dan menolak Yesus saja. Di dalam aspek pengetahuan, mereka
mengetahui siapa Yesus dan kuasa pelayanan-Nya penuh oleh Roh untuk menyatakan
kebenaran, namun mereka malah memfitnah bahwa pekerjaan Roh Kudus di dalam
Yesus adalah berasal dari kuasa setan.[8]
Grudem
menyimpulkan bahwa tindakan ini bukan hanya membuat orang-orang Farisi tidak
dapat dipulihkan Roh Kudus dan menerima hidup kekal. Secara langsung, dosa yang
mereka lakukan ini memutuskan mereka dari pertobatan dan iman dengan percaya
kepada kebenaran yang membawa hidup kekal.[9]
Sikap ini mengekpresikan permusuhan terhadap Allah.
KESIMPULAN
Kata “Menghujat”
dapat berarti sebuah tindakan penistaan dan tindakan keji. mengandung arti
memfitnah, mengumpat, mengutuk, dan menghina (khususnya berkenaan dengan
perkataan). Hukuman atas dosa menghujat Allah merupakan hukuman yang berat,
bahkan hukuman maut. Oleh karena Roh Kudus adalah Pribadi dari Allah
Tritunggal, maka menghujat Roh Kudus adalah sama dengan menghujat Allah
Dosa yang tidak
dapat diampuni yang dimaksudkan Yesus adalah menghujat Roh Kudus. Menghujat Roh
Kudus dilakukan oleh orang-orang yang dengan kesadaran penuh menyangkali
penyataan kuasa Allah yang sudah terbukti kentara sekali, lalu mengatributkan
kuasa Roh Allah itu dengan kuasa setan. Mereka dengan sengaja dan sadar memutuskan
untuk mengeraskan hatinya.
Dosa menghujat
Roh Kudus adalah tindakan yang hanya dilakukan oleh orang yang tidak percaya
kepada Tuhan dan akibatnya akan membawa malapetaka yang kekal bagi yang
melakukannya.[10]
Pada diri orang-orang yang telah menghujat Roh Kudus tidak bakal pernah muncul
rasa takut sedikit pun akan dosanya itu.[11]
Menghujat Allah adalah dosa yang melawan kemuliaan dan meremehkan kekudusan
Allah.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
“Blashpheme; Blasphemy,” The
International Standard Bible Encyclopedia.
2.
Baan, G.
J.,
TULIP: Lima Pokok
Calvinisme, Surabaya:
Momentum, 2009.
3.
Graham, Billy,
Roh Kudus. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1985.
4.
Grudem,
Wayne A., Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine. Grand
Rapids: Zondervan, 1994.
5.
Horton, Stanley M.,
Oknum Roh Kudus. Malang: Gandum Mas, 2000
6.
Lane, William
L., The Gospel of Mark, The New International Commentary on the New
Testament. Grand Rapids: Eerdmans, 1974.
7.
Lie, Hali
Daniel, Dosa
yang tak Berampun, Studi Biblika-Sistematika atas Matius 12:31-32. Jurnal
Amanat Agung Juni 2009.
8.
Mounce, William
D., Mounce's Complete Expository Dictionary of Old & New Testament Words. Grand
Rapids: Zondervan, 2006
9.
T. Rees, “Blasphemy,” ISBE I, gen. ed. Geoffrey W. Bromiley. Grand
Rapids: Eerdmans, 1979.
10.
Towns, Elmer
L.,
The Names of the Holy
Spirit. Yogyakarta:
ANDI, 2009
11.
William F. Arndt & F. Wilbur
Gingrich, A Greek-English Lexicon of the
New Testament and Other Early Christian literature. Cambridge: The
universitynof Chicago, 1967.
[1] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dosa (Diunduh: Kamis, 16
April 2020).
[2] Ibid.
[3] G. J. Baan, TULIP: Lima Pokok Calvinisme (Surabaya:
Momentum, 2009), 163-164.
[4] T. Rees, “Blasphemy,”
ISBE I, gen. ed. Geoffrey W. Bromiley
(Grand Rapids: Eerdmans, 1979), 521-522
[5] “Blashpheme;
Blasphemy,” The International Standard Bible Encyclopedia, 521-522.
Selanjutnya, referensi ini disingkat menjadi “ISBE.”
[6] William D. Mounce, Mounce's
Complete Expository Dictionary of Old & New Testament Words (Grand
Rapids: Zondervan, 2006), 67.
[7] Wayne A. Grudem, Systematic
Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Grand Rapids: Zondervan,
1994), bab 24, Kindle.
[8] William L. Lane, The
Gospel of Mark, The New International Commentary on the New Testament
(Grand Rapids: Eerdmans, 1974), 140.
[9] Grudem, Systematic
Theology, bab 24, Kindle.
[10] Roh Kudus: Kuasa
Allah dalam Hidup Anda, terj. Susie Wiriadinata (Bandung: Literatur Baptis,
2002), 197.
[11] https://id.m.wikipedia.org/wiki/Dosa (Diunduh: Kamis, 16
April 2020).

Komentar
Posting Komentar